Blog

Pendiri Kota Pontianak

Sultan Syarief Abdurrahman Al-kadrie

Syarif Abdurrahman Alkadrie bin Sayid Alhabib Husin Alkadri Jamalulail, lahir di Kerajaan Matan, seikta 15 Rabiul Awal 1155 H. Namun ada beberapa sumber menyebutkan Syarief Abdurrahman lahir 1739, sumber Belanda bahkan memperkirakan Syarief Abdurrahman lahir sekira 1742 H. Sampai sekarang belum ada sumber pasti mengenai kelahiran yang kelak menjadi raja pertama kerjaan Kadriyah cikal bakal berdirinya Kota Pontianak.

Syarief Abdurrahman lahir dari pasangan  Habib Husin dan Nyai Tua, dan memiliki empat saudara kandung, diantaranya Syaridah Khadijah, Syaridah Mariyah, dan Syarif Alwie atau biasa dijuliki Tuan Bujang. Ibu Syarief Abdurrahman merupakan dayang-dayang dari keturunan Dayak Islam kerajaan Matan.

Lahir dan besar dalam lingkungan pemuka agama, Syarif Abdurrahman mendapatkan pendidikan  dan pengetahuan yang cukup. Setelah 19 tahun menetap di Kerajaan Matan, Habib Husin memutuskan hiijrah ke Kerajaan Mempawah. Saat itu usia Syarif Abdurrahman diperkirakan berusia remaja atau sekitar 16 tahun.

Ketika Habib Husin pindah dari Kerajaan Matan ke Kerajaan Mempawah, seluruh keluarga turut serta. Dan menempati daerah dekat laut yang kini kita sebut Kuala Mempawah. Alasan Habib Husin memilih Kuala Mempawah untuk mempermudah jalur perdaganggannya serta penyeberan agama Islam, saat itu Kerajaan Mempawah dipimpin Opu Daeng Manambon di daerah Sebukit, Mempawah Hulu.

Dalam waktu singkat daerah perkukiman keluarga Habib Husin yang merupakan pusat pengembangan Ajaran Islam berkembang, banyak pedagang yang datang dari penjuru Barat Kalimantan, keadaan tersebut membangkitkan semangat Syarif Abdurrahman muda yang masih berusia 18 tahun menelusuri kehidupan para pedagang Mempawah, dan sat berusian 22 tahun Syarif Abdurrahman memberanikan diri berdagang kenegeri Banjar.

Raja Kerajaan Mempawah , Opu Daeng Manabon berencana menjodohkan anaknya Utin Candramidi dengan Putra Habib Husin, Syarif Abddurahman, perjodohan itu dilatarbelakangi rasa senang Opu Daeng Manabon terhadap  tokoh Agama yang termasyur dan menyebarkan ajaran Islam di Mempawah. Menikahlah Syarif Abdurrahman dengan Utin Candramidi.

Syarif Abdurrahman telah lama memiliki hasrat untuk berkeliling dan berdagang, sekira 1765 untuk pertama kalinya, Syarif Abdurrahman berlayar ke Palembang, dan selama 2 bulan dia menetap disana, selama di Palembang dia banyak mengenal para Sayid, dan kemudian ketika pulang ke Mempawah dia dibekali 2.000 ringgit, dan Sultan Palembang memberikan hadiah kepada Syarif Abdurrahman berupa perahu besar dan 100 pikul timah, pemberian itulah  menjadi cikal bakal dia berdagang pulang pergi Mempawah dan Palembang.

Sekira tahun 1776 Syarif Abdurrahman memutuskan untuk meninggalkan Mempawah, kali ini daerah tujuannya adalah Banjarmasin, dengan menggunakan beberapa buah perahun dan anak buahnya, dia menyusuri selatan Kalimantan, saat itu Banjarmasin sudah terkenal sebagai kota perdagangan, disanalah Syarif Abdurrahman berkenalan dengan beberapa pedagang dari Perancis, inggris dan Cina.

Bertolak dari Banjarmasih Syarif Abddurahman menuju Kalimantan Timur dengan tujuan sama yakni berdagang. Keberadaan Syarif Abdurrahman di Banjarmasih menarik perhatian Sultan Banjar, terlebih Sultan Banjar sangat mengenal Habib Husin dan Kesultanan Matan. Sultan Banjar pun menikahkan Syarif Abdurrahman dengan Ratu Syarifah Anum, sebagai menantu raja, dia pun mendapatkan gelar Syarif Abdurrahman Nur Alam, dan ini merupakan pernikahan keduanya setelah Utin Candramidi.

Lama di Banjarmasih sekira tahun 1771 ia memutuskan kembali ke Mempawah, dengan beberapa armada kapalnya dan sebuah kapal bersenjatakan meriam yaitu tiang sambung, dalam perjalanan ke Mempawah Syarif Abdurrahman berlabuh ke Bangka dan kepulauan lainnya sambil berdagang.

Sekembalinya dia ke Mempawah, kabar tak mengenakan menerpanya, ayahandanya Habib Husin dan mertuanya Opu Daeng Manambon sudah meninggal dunia. Dan saat itu kekuasaan Kerajaan Mempawah di bawah pimpinan Gusti jamiril yang bergelar Panembahan adijaya Kesuma jaya. Keadaan itu membuat keinginan kuat Syarifah Abdurrahman mencari tempat pergangan baru atau mungkin pusat kerajaan baru, keinginan itu disampaikannya kepada Utin Chandramidi dan medapatkan restu.

Berangkatlah ia menggunakan kapal yang banyak dan cukup kuat. Mereka berlayar ke hilir dan menyusuri pantai, tenggat tengah hari sampailah mereka di Sungai Peniti, mereka singgah sebentar dan menginap semalam, keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan ke hilir dan menemukan sungai yang luas, mereka memasuki muara sungai dan terus masuk pedalaman, sore hari pada hari kedua, Syarif Abdurrahman menemukan sebuah pulau ditengah-tengah sungai yang kemudian di sebut Batu Layang, karena waktu sudah malam, bermalamlah mereka di Batu Layang.

Selama bermalam di Batu Layang, setiap malanya mereka selalu diganggu berbagao macam gangguan yang menyeramkan, karena itu setiap malam ah Syarif Abdurrahman memerintahkan untuk menembakan meriam-meriam tersebut kearah yang dianggap sebagai daerah persembuyian hantu-hatu Pontianak ataupun perombak, kurang  lebih empat malam mereka bermalam di Batu Layang.

Sekira dini hari 14 Rajab 1185 H, Syarif Abdurrahman memerintahkan berlayar memasuki daratan dipertemuan antara sungai kapuas dan sungai landak dan tetap menembaki daerah persembuyian hantu-hantu dan perompak sampai pagi hari. Sekira pukul delapan pagi, Syarif Abdurrahman berkeyakinan daerah itu tempat untuk membangun permukinan. Diperintahkannyalah  semua untuk menepi dan mendarat. Diperintahkannya untuk menebas dan menebang pohon besar guna membangun tempat permukinan dan tempat ibadah.

Dan dimana saat Syarif Abdurrahman memerintahkan untuk menebas dan menebang pohon besar yang bertepatan dengan 23 Oktober 1771 atau 14 Rajab 1185 H ditetapkan sebagai hari jadi Kota Pontianak.

Beberapa Sumber menjelaskan saat berlayar itu Syarif Abdurrahman membawa 14 perahu. Selama 8 hari pertama menebas hutan di tanjung sebelah timur Sungai Kapuas dan Sungai landak, dalam satu minggu mereka berhasil mendirikan rumah sederhana dan tempat ibadah.  Dan dihari kedelapan ii juga memutuskan kembali ke Mempawah untuk mengambil Kapal Tiang Sambung, Kapal Armada perdagangan yang dipersenjatai, ia juga berziarah ke makan orang tuanya Habib Husin Alkadri, dan makan tersebut kini disebut sebagai Keramat Marhum Tuan Besar Mempawah. Ia juga membawa anak-anak dan istrinya untuk berlayar kembali ke Pontianak.

Syarif Abdurrahman hampir delapan tahun membangun Pontianak, beberapa bangunan rumah sderhana berdiri, pusat-pusat perdaganggan pun mulai ramai didatangai para pedagang, komunikasi dengan pendduduk asal juga dilakukan Syarif Abdurrahman, dia menikahi wanita-wanita sekitar, tercatat 25 wanita dinikahi Syarif Abdurrahman dan memiliki 60 anak.

18 Syakban 1192 H atau 1778 M atau bertepatan hari Senin dalam perjamuan keramian yang dihadiri oleh para Sultan dan Panembahan dari Matan, Sukadana, Simpang, Landak, Mempawah, dan Sambas, Raja Haji meresmikan dan menobatkan Pangeran Syarif Abdurrahman Nur Alam menjadi Sultan Pontianak. “Adapun kami memberi tahu kepada sekalian bangsa dinegeri Pontianak ini, kita telah angkat berpangkat nama Paduka Sri Sultan Syarif Abdurrahman bin Almarhum Alhabib Husen Alkadri menjadi raja diatas tahta kerajaan didalam negeri Pontianak.

Pengangkatan Syarif Abdurrahman sebagai Sultan Pontianak pun tersebar keberbagai kerajaan senusantara. Ketika dinobatkan sebagai Sultan Pontianak, ia baru berusia 39 tahun dan berusia 32 tahun saat bertama kali menginjakan kakinya didelta Sungai Kapuas yang merupakan cikal bakal Pontianak.

One Response

  1. A WordPress Commenter says:

    Hi, this is a comment.
    To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
    Commenter avatars come from Gravatar.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tambahkan Kontak Whatsapp Kami : 081254914797